Kalau Gak Mau Nulis Mending jangan Jadi Seorang Blogger

Artikel ini ditujukan bukan untuk mengenai atau menyinggung perasaan seseorang. Namun hanya sebatas curhatan isi hati penulis.

Oleh karena itu, artikel ini mungkin tidak ada hubungannya dengan profesi sebagai seorang blogger yang memang tujuan utamanya tidak sekedar uang, Google Adsense atau profit semata. Atau ngeblog hanya sebatas ngisi waktu luang dengan “iseng” posting apapun itu.

Artikel ini juga bukan sebagai suatu nasehat “kepakaran” tentang blogger, bukan pula sebagai wujud pembenaran isi pendapat yang termuat di dalamnya. Sekali lagi artikel ini memang sebatas uratan pena penulis melalui sebuah “lepi” usang yang setia menemani saya.

Hal utama yang mendasari saya menulis artikel ini karena rasa keprihatinan semata. Tadi pagi ketika membuka HP, ada beberapa pesan “notifikasi” dari salah satu media sosial yang kebetulan saya menjadi orang yang ikut nimbrung dengan adanya akun yang telah saya buat beberapa tahun kemaren.

Pesan notifikasi tersebut lebih khusus saya nilai sebagai pesan “marketing”. Lebih tepatnya pesan memasarkan produk. Produk tersebutlah yang menjadi salah satu “branding” ciri khas dari sang penyedia pembuat atau produsen.

Produk yang dipasarkan tidaklah berujud barang dengan spesifikasi detail dengan segala kelebihan dan kekurangan. Namun bewujud sebuah layanan jasa “pembuatan” artikel yang memang ditujukan untuk para blogger yang membutuhkan. Adakah yang salah dengan pesan notifikasi tersebut?

Sejenak saya berfikir, setelah rehat dari beberapa aktifitas rutin Minggu, nyapu dll, ada beberapa hal yang membuat saya tertegun. Setelah beberapa saat berfikir sambil menunggu batteray “lepi” penuh, akhirnya beberapa hasil pemikiranku saya tuangkan dalam artikel ini.

Ketika Saya cermati, setelah bergabung dengan beberapa group diskusi, dan akirnya juga dengan group media sosial tersebut yang baru beberapa bulan kemarin, banyak sekali para blogger yang melakukan komunikasi, saling bertukar link dll. Namun dari sekian aktivitas tersebut, ada satu hal unik yang baru saya temui, yakni adanya pesan pemasaran layanan jasa “pembuatan” artikel.

Sebenarnya saya juga tidak terlalu memikirkan hal itu, namun perasaan yang lebih khusus muncul kembali. Agak ragu juga sih sebenarnya mau saya ungkapkan. Namun karena adanya beberapa hal yang sekiranya sama persis dengan apa yang saya rasakan sejak dulu ketika masih study, akhirnya saat ini saya beranikan diri untuk menuliskannya.

Kembali pada hal utama dari kejadian ini. Dalam hati bertanya, “adakah rekan-rekan yang memang sengaja membangun blog atau situs dengan cara membeli artikel kepada orang lain”?. Kalau memang demikian, sebanrnya tujuan utama ngeblog rekan blogger tersebut seperti apa? Mengejar target, trafik, atau seperti apa?

Kondisi dan Trending Topik Blogger Indonesia 2016

Mungkin sudah menjadi kebiasaan umum bahwa salah satu trend blogger Indonesia yang saya ketahui, khususnya bagi para professional, hal utama yang sering kali muncul adalah keberadaan layanan jasa. Seperti halnya jasa pembuatan blog atau situs bagi sebuah perusahaan, atau sekedar blog yang memang ditujukan bagi perseorangan. Hal itulah yang menjadi tugas pokok bagi seorang Internet Mrketer.

Salah satu hal yang termasuk di dalamnya adalah layanan jasa pemlihan desain, yang tentu berkenaan dengan memberikan sebuah produk berupa template blog sampai proses instalasi. Ada juga bagi seorang praktisi online tersebut sekedar menjadi seorang pemecah masalah berbagai persoalan para blogger. Oleh karena itu, para Internet Marketer menjadi sangan sukses manakala produk layanan jasa tersebut bisa maksimal dalam merengkuh konsumen.

Namun ketika mengamati fenomena seperti halnya kasus di atas, setidaknya terdapat hal yang membuat saya heran. Karena memang saking kurangnya pengalaman saya (wajar juga karena saya blogger pemula), atau karena memang telah terjadi translasi sampai pada titik nadir transfomasi perubahan sikap dan kultur kehidupan bagi seorang blogger.

Pemikiran ini sebenarnya sudah muncul beberapa tahun yang lalu, ketika saya mulai masuk di perguruan tinggi dan sudah masuk di dunia kerja. Saya sangat prihatin dengan keadaan yang saya lihat dan temui langsung dalam kehidupan waktu itu, bahkan hingga saat ini.

Ketika saya pergi ke sebuah tempat foto copy, banyak banget orang menempelkan pesan singkat di sebuah ruko, yang isinya berupa “layanan penulisan skripsi”. Jadi intinya ada sebuah layanan jasa pembuatan skripsi, terlebih dari proses pemilihan judul hingga samapai daftar pustakan, pokoknya sampai purna kuliah.

Siapa yang tidak heran coba dengan hal itu. Sontak terfikir dalam hati, “njur gimana mahasiswa tersebut bisa menguasai materi dengan apa yang tidak ia tulis? Atau setidaknya bagaimana juga proses komunikasi, konsultas dari pemilihan judul, pendahuluan, kajian teori dll dengan dosen pengampu? Puyeng deh jadinya mikirin hal itu. Namun, FAKTANYA hal itu benar-benar terjadi. Coba renungkan”

Apakah ada sebagai mahasiswa yang sudah dengan susah payah masuk perguruan tinggi (sesuai dengan dengan cita-citanya) dengan berbagai ujian masuk, bisa PMKD, SPMB (jaman dulu), atau cara lain se Indonesia bahkan bersaing dengan beberapa mahasiswa dari luar negeri yang jika diterima merupakan kebanggaan luar biasa, untuk menggunakan layanan jasa tersebut?

Dengan perasaan kaget campur aduk dengan “hih..”, ternyata semudah itukah kuliah atau sekolah dengan harapan mendapatkan ijazah secara legal formal. Hal ini pula yang sedikit membuat saya gemas, seperti kasus Universitas atau Perguruan Tinggi bodong yang hanya (menurut pandangan saya) bisa dimaknai pendidikan sebagai ajang bisnis, tanpa mengedepankan kemampuan untuk kemajuan bangsa dan Negara Indonesia ini. Dengan lantang dan bangga, sang Mahasiswa ketika diwawncarai reporter TV Swasta, masak gak tau IPK padahal sudah jelas-jelas sedang wisuda? Gemesnya lagi, ketika ditanya di manakah gedung kuliahnya? Itupun juga gak bisa jawab.

Ironisnya (kejadian fakta yang memang terjadi) hal itu memang benar-benar terjadi di Indonesia.

Mari sejenak kita kembali pada pokok bahasan artikel ini.

Niat dan Alasan Menjadi Seorang Blogger

Ketika kita mau menelaah dua contoh di atas, saya yakin pasti ada beberapa hal penting yang bisa kita dapatkan. Kembali lagi saya tandaskan, Saya tidak menyalahkan siapapun, baik orang yang menawarkan jasa tersebut atau penggunanya.

Saya malah berfikir, sebenarnya potensi yang dimiliki anak bangsa adalah sangat tinggi. Dalam berbagai bidang, banyak sekali yang mampu menguasai. Bagi seorang penulis, mereka mampu “menjadikan” petensinya menjadi sebuah pendapatan halal dan berkah. Begitu pula bagi orang yang menggunakan layanan jasa tersebut. Mereka bisa “mungkin” dengan mudah mendapatkan target atau cita-citanya. Sebagai mahasiswa misalkan bisa merengkuh gelas Sarjana, atau para blogger bisa mendapatkan trafik dan mendapatkan uang dari Google Adsense. Dan masih banyak lagi imbal baliknya.

Terlepas dari itu semua, ada hal sederhana yang sebenarnya belum kita maksimalkan malah terhenti dengan berbagai tradisi dan kultur instan yang dikedepankan. Sebut saja “proses berfikir” dan memaksimalkan kemampuan, seperti halnya menulis.

Maka, sebenarnya menjadi seorang blogger adalah menyenangkan. Bagaimana tidak? Seperti dalam berbagai artikel yang pernah kita diskusikan. Kita sudah tahu bahwa salah satu cara tepat mendapatkan trafik di mesin pencari adalah adanya artikel yang baik, berkualitas.

Hal inilah yang sering disebut para praktisi professional dalam dunia blogging adalah artikel SEO. Apakah SEO itu juga pada artikel mas, bukannya hanya pada settingan template atau optimasi blog semata?

Hal itu adalah anggapan yang kurang tepat. SEO itu sebanrnya sangat luas sekali. Namun jika dikategorikan secara sederhana, SEO juga menyangkut sebera baik dan bagus kualitas sebuah artikel? Maka jika sobat mencari di Google dengan keyword artikel berkualitas, akan banyak sekali tips dan cara mudah menulis artikel berkualitas SEO dan ramah Google.

Dari situ saja, kita bisa belajar banyak. Coba bayangkan, berapa banyak uang yang harus sobat keluarkan jika harus membayar artikel dari orang lain? Atau paling tidak, sudahkah “lega” dan “plong” dengan blog yang sobat miliki (yang mungkin sudah mendapatkan uang dengan blog itu baik dengan pencapaian daftar Google Adsense atau program afiliasi lainnya), namun sebenarnya artikelnya dari orang lain?

Lebih parah lagi, sudah lelah-lelah mendapatkan artikel dari orang lain dengan uang yang tidak sedikit, namun hasilnya nihil. Tafik gak dapet, uang dolar juga gak dapet. Apa jadinya coba? Yang ada hanyalah tuno (istilah dalan Bahasa Jawa_daerah saya).
Simpelnya, sobat mendapatkan nilai ujian 100, namun yang ngerjakan orang lain. Adakah hal yang membuat sobat sendiri bangga? Sobat disanjung-sanjung dengan pencapaian tersebut. Di “elu-elukan” orang tua dengan kemampuan yang bisa membanggakan dengan tingkat prestisius luar biasa tersebut. Adakah yang bisa sobat banggakan jika hal itu benar-benar terjadi?
Hal itupun hakekatnya sama dengan menjadi seorang blogger. Maka, salah satu saran yang dikemukaan oleh seorang Internet Marketer, seorang blogger pula, yakni Mbak Indri, menjadi diri sendiri adalah kuncinya.

Tengok saja contoh blogger sukses lainnya, yakni Mas Eka Lesmana. Rahasia sukses Mas Eka Lesmana maupun Mbak Indri tidak terlepas dari kepercayaan diri yang begitu tinggi. Wajar saja jika menjadi seorang blogger pasti identik dengan menulis artikel.

Tips Mudah Menulis Artikel yang Baik

Sebenarnya tujuan utama artikel ini adalah mengajak kepada rekan-rekan blogger semua untuk selalu belajar, belajar dan belajar. Bagaimana jadinya jika bangsa ini para pemuda seperti kita tidak mau belajar. Apa pula yang akan terjadi dengan anak-anak sebagai generasi penerus kita selanjutnya jika kita hanya tertegun dan diam. Mari kita belajar menulis.

Pada hakekatnya, blogger dengan platform apapun, baik blogspot atau wordpress, atau dengan situs apapun intinya sama, yakni mengetengahkan sebuah hal yang bisa dinikmati orang lain. Jika artikel, maka tentu ilmu yang bisa kit peroleh. Namun jika situs jualan online (online shop), tentu sebuah produk barang atau informasi yang berkenaan dengan barang terebut yang bisa kita dapatkan. Atau situs yang memang memberikan sebuah layanan jasa, tentu jasa pula yang bisa kita dapatkan.

Kok kembali ke jasa lagi to mas, padahal kayaknya Mas gak setuju dengan jasa penulisan artikel?

Maksudnya bukan gitu, sebenarnya tidak saklek seperti itu. Namun ini hanya sebatas sebuah harapan besar buat kita semua, bahwa sebenarnya menulis itu mudah. Banyak hal yang bisa kita maksimalkan dari kehidupan untuk dijadikan sebuah tulisan.

Berikut ini ada beberapa tips mudah agar kita bisa menulis yang baik. Hal ini berlaku bagi seorang pemula seperti saya, atau buat orang yang malas nulis tentunya:
  1. Cermati keadaan lingkungan sekitar
  2. Temukan masalah yang ada dari keadaan hasil pengamatan tersebut
  3. Tulis dengan gaya Bahasa yang sobat fahami, lugas, namun harus disesuaikan dengan target pembaca
  4. Jangan pilih topic yang sekiranya sobat tidak faham dengan hal itu
  5. Jangan dipaksakan menulis terlalu panjang, cukup beberapa 2-3 paragrah saja
Kelima langkah di atas menjadi latihan awal bagi kita. Hal ini ilmu dasar menulis yang saya dapatkan ketika study dari seorang Guru. Hal ini bisa kita praktekkan kok, misalkan saja:

“sobat membaca koran di tajuk kota Anda. Cari beberapa artikel booming dari koran tersebut. Coba carilah penyebab (latar belakang masalahnya). Lalu pilih solusi pemecahan masalah tersebut dan tuangkan ke dalam sebuah artikel”.

Metode ini seringkali dinamakan menulis ulang atau rewrite. Sah-sah saja kok hal ini kita lakukan. Namun dengan tetap mencantumkan sumber manakala menyadurnya.

Lebih lengkapnya silakan saja baca artikel saya (jika berkenan) 5 cara menulis artikel yang baik dan ramah terhadap mesin pencari.

Kesimpulan

Sekali lagi, saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang mungkin berprofesi menjadi seorang penulis artikel namun dijual kepada para blogger lain, atau bagi konsumen atau pengguan. Saya tidak bermaksud apa-apa. Namun hanya sepintas merasa tergerak untuk mengajak para blogger Indonesia untuk terus belajar dan memaksimalkan potensi diri. Tidak ada yang tidak mungkin jika mau ikhtiar dan berdoa.
So, semua kembali pada rekan-rekan semua. Menjadi diri sendiri, believe your self and keep fight menjadi syarat mutlak sebagai seorang blogger. Karena sebenarnya menjadi seorang blogger itu sangat menyenangkan. Selain dapat duit juga dapat temen. Tidak hanya sebatas itu, dari wujud silaturrohim itulah rizki akan dilipat gandakan oleh Tuhan Yang Maha Satu. So, makna rizki juga sangat banyak, bisa berwujud uang, kesehatan, kecerdasan, berkah umur, iman, hidayah dan petunjukNya dan masih banyak lagi. So, mari kita kencangkan revolusi mental seorang blogger.
Jika sobat mempunyai pandangan berbeda, mohon untuk ditularkan kepada saya njeh. Dan semoga bisa bermanfaat pada rekan-rekan semua. Semoga. Salam blogger Indonesia.

4 Responses to "Kalau Gak Mau Nulis Mending jangan Jadi Seorang Blogger"

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    ReplyDelete
    Replies
    1. That`s right..namun sayangnya jenengan menanamkan live link..i am sorry

      Delete
  2. Wah, membaca artikel ini serasa nunjuk 5 jari ke muka sendiri.. :)

    Dulu saya kerap membuatkan tulisan buat orang lain sementara blog sendiri dibiarkan berantakan tidak terurus. Meskipun bisa dapat uang tapi ada banyak aturan yang membuat menulis tidak terasa bebas. Karena itu rasa-rasanya saya langsung bisa membedakan mana blogger yang menulis sendiri artikelnya dan mana yang memakai jasa orang lain. Yang bikin sendiri tulisannya akan terasa berjiwa, hidup dan akan terasa lebih personal.
    Yang tidak bisa saya tolerir dan bikin miris itu adalah jasa pembuatan skripsi/tesis seperti yang Mas SL ceritakan di atas. Seorang teman saya pernah bilang kalau ternyata yang pakai jasa model begitu tidak sedikit.

    Yang paling enak memang menjadi diri sendiri dengan apa yang kita tulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ulasan mas keren..hehe...ya itulahmenurut saya mas...miris juga kan? Seperti contoh mas dan apa yg saya jabarkan. Misalkan semua mahasiswa "memesan" skripsi atau thesis, trus mau dibawa kemana pendidikan di Indonesia ini?

      Itu sudah termasuk dalam aplikasi kehidupan yg lebih komplek.Sederhananya, ya seperti artikel yang kita diskusikan di atas, hehe

      salam sukses selalu mas

      Delete

Silakan masukkan komentar Sobat di sini!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel