Alasan Google+ Ditutup Pihak Google. Benarkah? Ini Alasan dan Kebenaranya

Rumor Google+ Ditutup Pihak Google. Benarkah? Ini Alasan dan Kebenaranya
Ternyata, tidak ada sistem di dunia ini yang aman dari celah atau kekurangan. Dalam beberapa waktu kemarin, santer beredar informasi bahwa Google+ akan ditutup karena alasan beberapa hal. Alasan utama tentu saja karena ketelodoran dalam hal keamanan data. Salah satu hal fatal adalah bocornya data yang mencakup nama, alamat email, pekerjaan, jenis kelamin, umur, dan data penting lainnya yang dimaksukkan saat melakukan pendafataran. Bocornya data tersebut tentu saja karena adanya celah keamanan (bug) media sosial tersebut.

Berdasarkan keterangan resmi beberapa waktu lalu, tepatnya di hari Senin, 8 Oktober 2018 kemarin, dari blog resmi mereka, kebocoran data tersebut sudah sejak 3 tahun silam, dari 2015 silam sampai Maret 2018 tahun ini.

Berdasarkan informasi dari laman kompas.com, sebenarnya Google sudah berupaya menutup beberapa celah yang menyebabkan tereksposnya data ke luar. Namun, pada kenyataannya kejadian ini masih saja terjadi. Rumornya, bahwa secara kemufakatan managerial internal pihak Google sudah menyepakai bahwa mereka akan menutup layanan media sosial Google+ untuk selamanya.

Baca juga: Kumpulan Cara Cepat Full Approve Google Adsense Plus++

4 Isi Keputusan Penting dari Google Perihal Penutupan Google+


Berikut ini adalah 4 isi keputusan penting perihal penutupan Google+ dari laman blog resmi Google:
  1. There are significant challenges in creating and maintaining a successful Google+ product that meets consumers’ expectations. Action: We are shutting down Google+ for consumers.
  2. People want fine-grained controls over the data they share with apps. Action: We are launching more granular Google Account permissions that will show in individual dialog boxes.
  3. When users grant apps access to their Gmail, they do so with certain use cases in mind. Action: We are limiting the types of use cases that are permitted.
  4. When users grant SMS, Contacts and Phone permissions to Android apps, they do so with certain use cases in mind. Action: We are limiting apps’ ability to receive Call Log and SMS permissions on Android devices, and are no longer making contact interaction data available via the Android Contacts API.

Perihal Lain Alasan Penutupan Google+

Berdasarkan data dari blog resmi Google, salah satu alasan lain ditutupnya Google+ adalah karena kurangnya greget konsumen dalam memanfaatkan fitur dan layanan mereka. Pihak Google menilai, bahwa kesadaran bahwa layanan tersebut tak memenuhi ekspektasi pengguna. Sebanyak 90 persen pengguna Google+ membuka akun mereka kurang dari 5 detik.
Ke depan, Google bakal fokus meningkatkan keamanan pada layanan-layanannya melalui program audit yang dinamai “Project Strobe”. Program inilah yang pertama kali membuat Google sadar ada bug di Google+ selama bertahun-tahun. Project Strobe secara umum bakal mengkaji akses para pengembang pihak ketiga ke data-data Google dan perangkat Android. Pada kasus Google+, ada 438 aplikasi pihak ketiga yang menggunakan API dengan bug berisiko, seperti dijelaskan sebelumnya.
Adakah dampak ditutupnya layanan Google+ bagi para blogger?

Bagi saya sendiri, tentu saja informasi ini akan membawa dampak yang kurang baik bagi perkembangan blog. Kenapa demikian? Diakui atau tidak, sebagain besar blogger masih menggunakan layanan Google+ untuk media marketing melalui group, komunitas atau jejaring di dalamnya. Tengok saja misalnya, komunitas Google+ para blogger untuk satu kelompok saja, anggotanya sangat banyak sekali.

Misalnya gorup kuliner, atau komunitas Belajar Islam, jumlah anggotanya bisa mencapai 500 ribu. Tuhkan, banyak banget.

Demikian informasi mengenai informasi mengenai ditutupnya Google+. Semoga bermanfaat, salam blogging.

0 Response to "Alasan Google+ Ditutup Pihak Google. Benarkah? Ini Alasan dan Kebenaranya"

Post a Comment

Silakan masukkan komentar Sobat di sini!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Hosting Unlimited Indonesia