Ironi, Ternyata Alat Deteksi Tsunami di Indonesia Kurang Canggih dan Dicuri Orang

Buoy (alat deteksi tsunami) rusak yang ditarik ke darat oleh nelayan di Trenggalek pada Maret 2018
Buoy (alat deteksi tsunami) rusak yang ditarik ke darat oleh nelayan di Trenggalek pada Maret 2018 (Sumber: detik.com)
Terjadinya tsunami di Palu membuat banyak ilmuwah dunia kaget. Mereka tak mengira dengan magnitudo 7,4 yang berpusat di titik 80 kilometer sebelah utara Palu akan menimbulkan gelombang air laut hingga menerjang Palu sehingga bangunan-bangunan hancur, kendaraan tersapu hanyut, dan ratusan orang tewas.

Sebut saja Jason Patton, pakar geofisika yang bekerja untuk perusahaan konsultan Temblor dan mengajar pada Humboldt State University di California, Amerika Serikat, seperti dilansir New York Times, Senin (1/10/2018). Jason mengira gempa tersebut tak dinyananya dapat mengakibatkan kehancuran kota Palu.

Para pakar tsunami memberi penilaian, bahwa di Indonesia ternyata peralatan deteksi canggih tsunami masih relatif sedikit dan dinilai sangat kurang.
Berdasarkan informasi yang dilansir detik.com, saat ini Indonesia diketahui hanya menggunakan seismograf, perlengkapan GPS (global positioning system), dan tide gauge (alat pengukur perubahan ketinggian air laut) untuk mendeteksi tsunami. Profesor yang mengajar di University of Pittsburgh, Louise Comfort, mengatakan bahwa Indonesia memiliki 22 jaringan sensor serupa tapi ironinya, kebanyakan tidak lagi digunakan karena tidak dirawat atau dicuri pihak tak bertanggung jawab. Dia menyebut peralatan itu memiliki efektivitas yang sangat terbatas.
Baca juga:Foto Dampak Gempa dan Tsunami Palu Donggala Sulawesi Tengah dari Ketinggian

Jika kita melihat negara AS misalnya, mereka setidaknya mempunyai 39 jaringan sensor canggih di dasar lautan yang bisa mendeteksi perubahan tekanan sekecil apa pun yang mengindikasikan kemunculan sebuah tsunami. Data-data dari sensor itu akan disampaikan via satelit dan dianalisis, untuk kemudian peringatan akan dirilis jika diperlukan.

Comfort sendiri, dalam waktu ini juga turut serta dalam proyek untuk membawa sensor tsunami di Indonesia. Proyek yang sedang dikerjakan Dr Comfort akan membawa sistem baru ke Indonesia, yang nantinya akan menggunakan komunikasi bawah laut untuk menghindari penggunaan buoy di permukaan laut yang bisa dicuri atau tertabrak kapal. Mengingat potensi tsunami di Indonesia masih saja bisa terjadi, karena secara geografis letak Indonesia berada di Cincin Api.

Seperti diketahui, bahwa pada Maret 2018, sebuah buoy (alat detektos gelombang tsunami) tengah ditarik ke darat oleh para nelayan. Alat itu dalam kondisi rusak dan ditarik ke Pantai Ngadipuro, Kecamatan Munjungan, Trenggalek, Jawa Timur.

Baca juga:Fakta Gempa Donggala secara Ilmiah dan Total Jumlah Korbannya






Lebih memprihatinkan lagi, pada tahun 2014, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia hanya memiliki 2 buoy. Selebihnya dalam kondisi rusak. Dua unit buoy yang masih berfungsi tersebut terletak di Lautan Hindia dan di sekitar Mentawai. 7 Unit lainnya masih berada di tengah lautan waktu itu, namun kondisinya rusak sehingga tak dapat memberikan informasi deteksi dini tsunami.

0 Response to "Ironi, Ternyata Alat Deteksi Tsunami di Indonesia Kurang Canggih dan Dicuri Orang"

Posting Komentar

Hanya sebagian kecil komentar yang disetujui. Jangan membuang waktu Anda jika hanya untuk melakukan "spam" di Forum Blogger Indonesia ini. So, komentar yang Anda tuliskan menunjukkan tingkat kualitas diri Anda.

Salam blogger

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel